Deskripsi
Judul: Al-Qur’an dan Seni Bertahan dalam Krisis: Membaca Strategi Ekonomi Nabi Yusuf di Era Modern
Penulis: Nada Mauila, M.Ag.
Editor: Dr. Ahmad Zulki, M.Ag.
Halaman: 156 hlm
Ukuran: 14 x 20 cm
Deskripsi:
Kita hidup dalam dunia yang mampu memproduksi begitu banyak makanan, tetapi belum sepenuhnya mampu memastikan bahwa setiap manusia memperoleh haknya untuk hidup dengan layak. Kita menyaksikan kemajuan ekonomi yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama masih berhadapan dengan persoalan kemiskinan, ketimpangan, dan kerentanan kelompok masyarakat tertentu terhadap gejolak harga kebutuhan pokok. Persoalan pangan, pada akhirnya, bukan hanya persoalan berapa banyak yang dihasilkan oleh bumi, melainkan juga persoalan siapa yang menguasai, bagaimana sumber daya dikelola, dan sejauh mana kebijakan publik berpihak pada keberlangsungan kehidupan manusia. Karena itu, membaca kisah Nabi Yusuf pada masa kini bukanlah upaya memaksakan konsep ekonomi modern ke dalam teks suci, melainkan sebuah ikhtiar untuk menemukan titik perjumpaan antara petunjuk wahyu dan kebutuhan kehidupan kontemporer. Al-Qur’an tidak hadir sebagai buku teori ekonomi dalam pengertian teknis sebagaimana dikenal dalam disiplin ilmu modern. Namun, Al-Qur’an menghadirkan prinsip-prinsip moral, etis, dan kemanusiaan yang dapat menjadi landasan bagi pengembangan pemikiran ekonomi. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang amanah, tanggung jawab, keadilan, perencanaan, pengendalian diri, dan keberpihakan kepada kemaslahatan bersama.
Buku ini menjadi semakin menarik ketika kisah Nabi Yusuf dibaca melalui perspektif Sayyid Quthb dalam tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân. Tafsir tersebut tidak hanya mengajak pembaca memahami makna ayat secara tekstual, tetapi juga menghadirkan dimensi kehidupan yang terkandung di dalamnya. Al-Qur’an dipahami sebagai petunjuk yang senantiasa berdialog dengan realitas manusia, membentuk kesadaran, membimbing tindakan, dan mengarahkan kehidupan menuju nilai-nilai ketuhanan. Melalui pembacaan tersebut, strategi Nabi Yusuf tidak hanya dapat dipahami sebagai tindakan teknis untuk menyimpan hasil panen, tetapi juga sebagai ekspresi kecerdasan profetik dalam mengelola kehidupan. Ada perpaduan antara pengetahuan, visi masa depan, integritas pribadi, kemampuan membaca situasi, dan tanggung jawab sosial. Nabi Yusuf mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu mengelola kekayaan, tetapi harus memiliki kesadaran tentang kemungkinan penderitaan yang dapat dialami oleh masyarakat apabila kekayaan tersebut tidak dipersiapkan dan didistribusikan secara bijaksana.